Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label komunitas

Ada Pelangi Abu di Sini

Menelusuri Komunitas Gay dan Lesbi di Kota Mataram Chapter I Aku Terjebak Jam tangan saya masih menunjukkan pukul 01.15 Wita, matahari terasa sangat menyengat. Jalan Pemuda masih sangat padat, hampir di setiap gerbang sekolah yang berderet di sepanjang jalan utama ini penuh oleh kerumunan siswa yang jadwal pulang sekolahnya hampir bersamaan. “Ayo bro… orangnya udah siap diajak ngobrol,” isi whatsapp dari seorang teman yang sudah hampir sebulan ini selalu menemani saya mengunjungi dan berkenalan dengan anggota komunitas “Cowok Brondong Mataram”.  Komunitas ini dibuat untuk berkenalan sesama gay yang ada di kota Mataram, itu pengakuan admin grup facebook ini. *** Dia adalah orang yang pertama kali saya temui. Sekaligus membuka jalan bagi saya untuk mengenal lebih dalam komunitasnya. Sebelum ngobrol ia menceramahi kami tentang perbedaan gay dan banci. Menurutnya, menjadi gay adalah wajar saja. Lelaki yang orientasi seksnya mengalami penyimpangan (jiwa), s...

Kampung Kertas bukan Perahu Kertas

Keriuhan anak-anak yang sedang asyik membaca menyambut kedatanganku pagi itu, di gerbang kayu berhiaskan dedauan dari tumbuhan yang merambat  mulai rimbun. Disitu tertulis “Kampung Kertas”. Ya… itulah basecamp tempat berkumpulnya puluhan pemuda yang menginisiasi terbentuknya komunitas literasi dan taman baca. Yup… Minggu 2 April 2017 saya diajak seorang teman dari komunitas “Buku Ini Aku Pinjam” untuk menyambangi kampung buku yang sudah mulai terbentuk sejak 2014 ini. Senyum ramah tuan rumah menyambut kedatanganku, kopi langsung terhidang. “Apa kabar… akhirnya sampai juga di tempat kami,” sambut Bang Adek, salah satu pegiat di komunitas ini. Puluhan anak-anak usia sekolah dasar memenuhi bangku kayu asyik membaca dan bercengkrama dengan kakak-kakak dari Komunitas BIAP.  Komunitas Kampung Kertas berlokasi di Dusun Medas Bedugul, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari. KRK sebagai komunitas literasi berproses dari bentuk awalnya sebagai “rumah singgah” menjadi komunitas ...